Thursday, December 22, 2011

Kerajaan Balanipa


Balanipa adalah sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Desa Balanipa, Kecamatan Balanipa dalam daerah Kab. Polewali Mandar. Pasti teman-teman se-Indonesia belum banyak yang mengenalnya, maklumlah karena daerah ku yang satu ini sangat terpencil tapi sifatnya yang terpencil tidak membuat daerah ku yang tercinta ini tidak menyimpan sejuta cerita, peristiwa dan sejarah yang patut diketahui. Baiklah langsung saja yah, teman-teman !!!.

Pengertian Balanipa
Terlebih dahulu kita harus ketahui dulu arti Balanipa secara harfiah, Balanipa bersala dari dua kata bahasa mandar yaitu , “Bala” yang berarti kandang dan “Nipa” yang berarti ‘nipa’ (suatu jenis bahan dasar membuat wadah). Bala adalah kandang/tempat yang berfungsi sebagai arena untuk mengadili dua orang laki-laki yang sedang berselisih atau bersengketa dan tidak bisa lagi didamaikan. Keduanya dimasukkan ke dalam bala nipa (kandang yang terbuat dari nipa) lengkap dengan senjata tajam masing-masing, diadu menyabung nyawa. Siapa yang lebih dahulu terluka atau mati dia dianggap bersalah. Pengadilan seperti itu berlaku di daerah Balanipa sebelum I Manyambungi bergelar Todilaling menjadi raja Balanipa yang pertama. Kemudian disusul Tomepayung raja Balanipa yang kedua, Todiyallo’ menjadi raja Balanipa yang ketiga, dan yang lainnya.

Kerajaan Balanipa
Selain Balanipa merupakan nama daerah di Polewali Mandar, Balanipa juga merupakan nama kerajaan yang terbesar yang pernah ada di Kab. Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Kerajaan Balanipa tergabung dalam Persekutuan Pitu Baqbana Binanga dengan status sebagai Ama/Kamaq ‘ Bapak’ dalam pengertian ‘Ketua’. Sudah terkenal sejak abad ke-9 yang disebut dalam Sure’ Galigo. Mengalami beberapa periode pemerintahan yakni dari Zaman Tomakaka, Zaman Pappuangang, dan Zaman Kerajaan.

Struktur Kerajaan Balanipa
Para pejabat dan tugas mereka dalam kerajaan ialah Mara’dia ‘Raja’ Balanipa. Raja/Kepala/Ketua Pemerintahan. Pengangkatan raja yang baru dicalonkan berdasarkan musyawarah mufakat oleh Hadat Appeq Banua Kaiyang ‘Empat Negeri Besar’ yaitu Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang-Todang.
Kemudian pejabat kerajaan yang lain adalah Mara’dia Matoa Balanipa yaitu wakil raja. Yang pertama kali diangkat menjadi Mara’dia Matoa Balanipa adalah Todiyallo’ (adik Tomepayung, raja Balanipa ke-2). Diantara mereka yang pernah menjadi Mara’dia Matoa Balanipa ialah I Nalong, I Baso (To Keppa’) dan I Boroa (To Kape) pada waktu Ammana I Bali menjadi Raja Balanipa, Pammase (Pallawuang) pada waktu I Mandawari menjadi Raja Balanipa, dan Abd. Madjid Mara’dia Tomadio/Campalagian pada waktu Andi Baso menduduki jabatan Raja Balanipa.
Selain jabatan dua jabatan penting di atas jabatan-jabatan lain yang ada di Kerajaan Balanipa adalah Mara’dia Malolo Balanipa (angkatan bersenjata kerajaan), Pa’bicara Kaiyang, Pa’bicara Kenje’, Pepuangan yang berjumlah 8 orang yang bertugas di wilayahnya masing-masing. Jabatan-jabatan itu berlaku sejak berdirinya kerajaan sampai tahun 1906, yang disebabkan oleh Pemerintah Belanda yang menghapus sebahagian jabatan yang ada dalam kerajaan karna dapat mengancam usaha Belanda untuk menguasai wilayah Mandar.

Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan pemerintahaan kerajaan Balanipa terdiri atas dua bagian yaitu Wilayah asal (kernland) dan Wilayah-wilayah yang diperintah raja-raja kecil dan mempunyai otonomi sendiri-sendiri, masuk ke Kerajaan Balanipa karena persahabatan dan diikat oleh assitalliang ‘perjanjian’.
Terletak di wilayah Afdeling Mandar dari Gubernur Selebes dan Daerah Takluknyam kira-kira 2 50’ L.S. dan  118 54’ B.T. dan 119 20’ B.T.

Gmana teman-teman semoga dengan kemauan dan perhatian teman yang telah membaca artikel ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang Daerahnya Afiq Agung "anak Indonesia yang lahir di daerah Mandar" . Terima Kasih karena telah membaca ^__^.
Sumber : Buku Ensiklopedia Tentang Mandar.
jika teman2 membutuhkan atau ingin menyalin/mengopi artikel ini, silahkan hubungi saya lewat Facebook.

8 comments:

  1. Alhmdllah aKhirx sya mengerti sdkit tentang MANDAR, msalahx sya orang Mandar Balanipa, Tpi Lhir dan besar di Kalimantan,,,
    sdangkan orang tua gk prnah crita tntang Mandar....

    ReplyDelete
  2. kalau berbahasa mandar yang benar mana..yaaa?, soalnya saya belum pernah mendengar orang mandar asli mengucapkan "cabe-cabe" yang saya dengar "cawe-cawe keccu'"=lombok kecil

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Pallawuang itu memiliki saudara yang bernama Pakkarama' dan Passalunna, yang kemudian ketiga bersaudara ini dikenal dengan julukan "Jaka' Tallunna Balanipa"..

    Ada referensi tentang itu kah ? klw ada bisa di post juga.. butuh sejarah tentang itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Passalunna, Pallawuang dan Pakkarema adalah Putra dari Raja Balanipa bergelar TOKAPE, Tokape adalah putra Raja Balanipa bergelar Tomate di Lekopa'dis.
      Tokape adalah Raja Terakhir yang dinobatkan secara adat asli Balanipa, karena setelah itu Belanda mengacak-acak tradisi dan politik divide et impera terhadap seluruh keluarga raja dan anggota Hadat.
      Tokape akhirnya dibuang Belanda ke Pacitan Jawa Timur bag. Selatan.
      Demikian pula "pendudukan" Batalion 710 dibawah Komando Andi Selle.

      Delete
    2. Betul skli, Simangngi (Pakkatama) menjadi maradia Pamboang, makamnya ada jga d pamboang, Ayah saya cicit dri Simanangngi (Pakkarama').

      Delete
  5. Pallawuang itu memiliki saudara yang bernama Pakkarama' dan Passalunna, yang kemudian ketiga bersaudara ini dikenal dengan julukan "Jaka' Tallunna Balanipa"..

    Ada referensi tentang itu kah ? klw ada bisa di post juga.. butuh sejarah tentang itu..

    ReplyDelete